Home | Entertainment | VALENTINE DAY, Bukan Hari Kasih Sayang

VALENTINE DAY, Bukan Hari Kasih Sayang

valsdyMemasuki awal bulan Februari berbagai media massa, entah itu Televisi, majalah, surat kabar, radio, iklan-iklan, spanduk, dan berbagai media lainnya mengkampanyekan akan semaraknya penyambutan hari Valentine. Mereka, dengan segala kepentingannya mempromosikan acara-acara Valentine dengan segudang pernik-perniknya. Berbagai tempat mewah semacam hotel, tempat hiburan, dan tempat-tempat wisata lainnya juga memanfaatkan kesempatan itu, para artis pun yang menjadi idola di kalangan remaja ditampilkan guna menarik perhatian.

Pertanyaannya, benarkah Valentine Day itu adalah Hari Kasih Sayang sebagaimana yang dipromosikan pihak-pihak tertentu untuk mengundang simpatik para remaja, termasuk di dalamnya remaja Islam? Ternyata tidak. “Valentine Day, bukan hari kasih sayang, tapi Valentine Day adalah hari ‘Kumpul Kebo’,” ungkap Drs. Dahlan Bashri Thahiri, Lc, MA, ketua Majlis Fatwa Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia.

Dijelaskannya, perayaan ini berawal dari upacara kepercayaan bangsa Romawi yang dilakukan setiap 15 Februari yang diberi nama Lupercalia. Pada hari itu, para remaja laki dan perempuan berkumpul menjadi satu, remaja yang perempuan menuliskan namanya masing-masing, setelah itu dimasukan ke dalam kotak. Setelah komplit nama-nama remaja perempuan yang hadir dalam acara itu dimasukan ke dalam kotak, remaja laki-laki mengundi nama-nama tersebut, begitu nama perempuan itu keluar, langsung perempuan itu menjadi milik remaja lelaki yang mengundinya. Lalu, mereka hidup saling berpasangan satu dengan lainnya. Mereka bebas melakukan apa saja, termasuk di dalam melakukan hubungan seks antar mereka.

Kemudian, ketika agama Kristen menjadi agama negara di Roma, para penguasa Romawi dan tokoh agama Katolik Roma seperti Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I, mengadopsi upacara Lupercalia ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristen, seperti mengganti  nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Akhirnya, pada 496 M, agar upacara itu lebih mendekatkan kepada ajaran Kristen, Paus Gelasius I menjadikan upacara Romowi kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan pada 14 Februari dihukum mati dan dianggap sebagai seorang pahlawan bagi orang Kristen ketika itu.

Dari perjalanan sejarah ini hendaklah remaja Islam diberi pemahaman, tambah Dahlan Bashri, bahwa Valentine Day, bukan hari kasih sayang sebagaimana yang dipopulerkan belakangan ini. Tapi, Valentine tidak lain, berawal dari sebuah upacara kepercayaan bangsa Romawi yang diisi dengan ‘kumpul kebo’ antar sesama pasangan.

Kemudian ketika upacara itu diadopsi menjadi hari Valentine, itupun tidak lain dimaksudkan untuk menghormati dan menghargai tokoh Kristen yang mereka idolakan ketika itu, yang tidak lain adalah seorang yang bernama  St. Valentine.

Memang Valentine Day masih terus digandrungi para remaja, termasuk di dalamnya remaja Islam, akan tetapi dengan semangat da’wah kita wajib mengingatkan kepada mereka, paling tidak kepada para orang tua, untuk terus menjaga anak-anaknya agar tidak terjerumus ke dalam kegiatan yang tidak islami ini. (Oma)

(source)

Share and Enjoy:
  • Print
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google Bookmarks
  • Blogplay
  • Add to favorites

No related posts.

Leave a Reply

Copyright © 2009 diancakra.COM. All rights reserved.
Powered by em2u.web.id.